Raga

Perkenalkan, namaku Raga. Aku bersekolah di SDN Kelapa Sari 04, Kebumen, Jawa Tengah. Esok hari aku dan Bapak akan berangkat ke sekolah bersama untuk mengambil laporan belajarku semester akhir sebelum aku naik ke kelas 6 SD. Di sekolah, aku mempunyai banyak teman laki-laki yang sering bermain layang-layang bersamaku di halaman belakang sekolah setiap sore sehabisnya aku membantu bapakku menggarap sawah. Disini, di kampung ini, keluargaku adalah adalah keluarga yang dihormati dan disegani. Bapakku adalah seorang kepala desa sejak 2 tahun yang lalu. Entah sampai kapan, aku pun tak terlalu mengerti sistem pemilihan kepala desa di kampungku. Maaf ya teman, aku suka bercerita panjang lebar begini, meskipun mungkin seperti loncat-loncat ceritanya, tapi aku suka menceritakan tentang diriku kepada teman baru. Semoga kalian bisa menerimaku. Mau mendengar lanjutan ceritaku?

Selain bapakku yang kepala desa, ibuku adalah ketua perkumpulan ibu-ibu di kampung. Setiap satu bulan sekali, mereka mengadakan pertemuan untuk membahas program-program desa seperti bersih desa, ritual adat, maupun arisan warga. Pertemuan itu diadakan bergantian dari satu rumah ke rumah lainnya. Yang aku tahu, awalnya sebenarnya ibuku tidak mau ditunjuk sebagai ketua karena ibuku adalah seorang yang pemalu, begitu yang kudengar ketika pertemuan pertama diadakan dirumahku. Tetapi saudaranya ibu yang juga tinggal di satu desa yang sama mengompori lainnya untuk tetap menunjuk ibu. Padahal saat itu, aku berharap sekali ibuku lah ang menjadi ketua. Aku senang sekali jika ibu dan bapakku sibuk dengan urusannya masing-masing. Sehingga mereka tidak akan terlalu menaruh perhatian kepadaku. Bukan aku yang tak suka diperhatikan, tetapi karena aku menyimpan suatu rahasia yang sungguh besar, yang hanya aku seorang mengetahuinya. Rahasia ini akan segera meledak.

Mengenai saudara, aku tidak mempunyai kakak atau adik yang dapat aku ajak main setiap hari seperti teman-temanku lainnya. Kadang aku iri, kadang juga aku senang. Iri karena aku tidak mempunyai teman dirumah. Senangnya karena aku tidak perlu bertengkar untuk memperebutkan sesuatu. Seperti yang aku lihat tadi sore, temanku yang bernama Gianto sedang berpukul-pukulan dengan adiknya hanya karena ayam yang menjadi jatahnya dimakan tanpa ampun oleh adiknya. Ibunya pun tidak perduli mereka bertengkar. Gianto pun harus menanggung nasib hanya makan nasi dan garam malam itu. Aku pergi kerumahnya dan bertemu dengannya di teras depan sedang termenung. Segera setelahnya, kami sama-sama asik menikmati rembulan malam sambil menyantap pisang rebus.

Ah, sudahlah, tak ingin lagi aku membicarakannya. Sekarang aku ingin tidur. Esok hari harus bangun pagi mengambil rapor di sekolah bersama bapak. Semoga nilaiku bagus, kalaupun tidak, semoga aku bisa kabur dari cambukan bapak.

 

 

Aku mengerjap-kerjapkan mataku, masih gelap. Suara adzan Shubuh sedang berkumandang nyaring sekali dari mushola berjarak 100 meter dari rumahku. Aku masih mengumpulkan tenaga untuk bangkit dari tempat tidur. Kulihat seberang kananku, Bapak masih tidur di sofa, entah ibu. Aku memegang dipan kayu dari tempat tidurku. Ku tekan sekuat tenaga untuk membantuku bangkit. Kupakai sandal karetku, lantai tanah dirumahku masih terasa dingin. Perlahan aku berjalan menuju pintu untuk keluar mensucikan diriku sebelum berangkat beribadah ke mushola. Percikan air segar terasa menambah gigil sisa malam ini ditubuhku.

“Pak, bangun pak, sudah Shubuh,” Bapak mengeryitkan dahinya, memicingkan mata melihat siapa yang mebangunkannya. Dengan sarung yang masih terlilit dibadannya Bapakku perlahan bangun,

“Iyo le.”

 

BACA JUGA

Ibu Singkong

Cerita Seorang Ibu dan Anaknya

Budak

 

Mushola sudah penuh dengan orang-orang tua yang akan melaksanakan shalat Shubuh. Sedari kecil aku memang dibiasakan Bapakku untuk shalat Shubuh berjamaah di mushola sehingga seberapa petangpun aku tidur kemarin, jam tubuhku sudah otomatis bangun ketika Shubuh tiba. Tak kulihat satupun temanku berada di barisan jama’ah.

Sepulangnya dari mushola, aku mandi dan berpakaian rapi, ku sisir rambutku hingga klimis. Hari ini hari yang spesial pula biasa saja.

Semoga nilaiku tidak jelek. Semoga Bapak tidak marah. Semoga Ibu tidak memukulku. Hanya itu doaku pagi ini. Kusebut berkali-kali didalam lubuk hati.

“Le, ayo le berangkat. Wis awan,” Bapak menyeruku.

Aku segera keluar mengambil sepeda tuaku yang sudah pudar bercampur karat warnanya. Kukayuh sepeda agar menyeimbangi kecepatan Bapak. Aku selalu berangkat ke sekolah naik sepeda, tapi entah kenapa aku selalu kalah cepat dengan kayuhan Bapak. Ah, aku punya satu teori, Bapak kan mempunyai kaki yang lebih panjang dari aku, begitu pula rodanya yang lebih besar dari roda sepedaku, sehingga kayuhan pelanpun sepeda akan meraih lebih banyak jarak daripada yang bisa sepedaku raih. Hehe.. pintar kan aku? Entahlah, itu hanya pikiran sekelibat.

 

Di sekolah.

“Selamat pagi, Pak. Monggo silahkan masuk,” sapa Bu Guru Antika wali kelasku.

“Enggeh, enggeh Bu, Matur nuwun,” Bapak sedikit menundukkan badan sembari menyebrangi pintu kelas menjelalati kursi yang masih kosong. Di paling belakang Bapak duduk, hanya itu satu bangku yang masih tersisa. Aku menanti diluar saja. Tidak boleh ikut masuk ke kelas kata Ibu Guru Antika.

Aku sapu pandanganku ke halaman sekolah. Beberapa anak main, aku tak kenal. Teman-temanku tak terlihat.

Tiba-tiba…

“Hey, kemana saja kamu? Kucari-cari tak ada. Ayo sini main sama anak-anak. Masih lama itu pembagian rapornya,” pundakku dicengkeram oleh Saptono dari samping. Aku tak melihatnya datang, pun suara langkahnya tak kudengar.

“Aduh, kaget banget aku To. Kamu darimana tho kok nggak keliatan? Aku juga nyariin kamu ini daritadi.”

“Lah aku laper Ga, makanya aku cari makan tadi dibelakang bareng anak-anak yang dateng lebih pagi dari kamu. Ayo wis.

Aku mengikuti Saptono dari belakang. Di kursi-kursi plastik berwarna merah dan kuning, duduk teman-temanku yang lain sedang asik menikmati nasi uduk Buk Yem.

“Hei, ayo sini-sini duduk. Aku masih makan bentar ya. Kamu mau makan ndak?” sapa Rudi si anak gembul.

“Enggak Rud terimakasih. Aku sudah makan singkong rebus tadi dirumah. Dibuatkan ibuku.”

“Lah yo moso singkos rebus saja kamu kenyang Ga?”

Aku hanya membalasnya dengan tersenyum,

“Ayo wes ndang dientekno iku makananmu Rud. Kita main saja lah. Bosan aku menunggu ceramah Bu Guru Antika. Pasti lama banget.”

 

Ketika aku sedang asik bermain bola di halaman sekolah, Bapak memanggilku dari depan ruang kelasku,

le ayo le pulang!”

Kok tumben ya nggak lama Bapak sudah menerima rapor, aku panik. Takut sekali jangan-jangan nilaiku jelek.

Aku pamit dengan teman-temanku untuk pulang dahulu.

“Gimana Pak?” aku menanti harapan Bapak dengan cemas. Aku tak dapat menilai arti air muka Bapak.

“Nilaimu ada yang jelek beberapa, le. Yang lainnya bagus nggaka ada masalah. Kamu perlu belajar lebih giat lagi ya, le. Kata Bu Guru Antika, kamu itu pinter sebenernya le cuma kadang suka mbolos sama tidur dikelas. Dudukmu ngga pernah didepan ya le? Kenapa le?

Jantungku berdegup kencang, sangat kencang sekali, seperti mau meledak. Setiap kata yang terlontar dari mulut Bapak seperti racun yang mau membunuhku,

“Iya Pak Raga nggak suka duduk didepan Pak. Ingin dekat dengan teman-teman Raga.”

“Oh, yasudah kalau gitu yang penting habis ini belajar lebih giat lagi ya le?”

“Iya, Pak.” Aku mengangguk dengan akhiran merunduk tak ingin ku melihat mata Bapakku yang kecewa karena aku. Tapi aku tahu Bapak tak akan marah. Semoga Ibu juga.

Jalan tanah liat yang masih becek dan berlobang mewarnai perjalanan pulang kami. Dari pagi mandi pagi dirumah sudah kotor terkena lumpur di jalan. Sesampainya dirumah semakin kotor lagi celana dan sandal kami.

Ibu sudah menanti di balik daun pintu sembari mengupasi pete yang akan dimasak hari ini,

“Gimana Pak rapornya Raga?”

“Ini Buk,” Bapak menyerahkan laporan hasil belajarku kepada Ibu. Bapak melepaskan pakaiannya lalu beranjak ke keran air disamping rumah.

Ibu melihat raporku dengan seksama. Aku duduk disampingnya. Menanti.

“Yaampun le, kenapa ini kok matematika jelek begini le? Terus ini Bahasa asing, ilmu sosial, kimia.

“Iya Bu susah.” Jawabku singkat.

“Kamu kan belajar tho le setiap hari, ya masa nggak bisa? Gimana tho kamu ini Raga?”

Aku melengos.

“Gatau Ibu le mesti ngapain lagi. Nakal banget kamu itu. Pergi saja sudah le dari rumah ini. Capek ibu ngurusin kamu.”

Tak kutunggu waktu lama untuk menyerap satu kalimat perintah Ibu yang bsaru saja dikatakannya. Aku kemasi beberapa pakaian, aku makan beberapa potong tempe dan ubi yang ada di meja makan dengan cepat, tak lupa ku teguk air sebanyak-banyaknya. Aku siap pergi. Seperti yang sudah aku duga, ibuku semakin naik pitam. Tapi, aku sudah tahu apa yang akan terjadi. Dia mulai menyumpahiku macam-macam. Tak tahu diri, anak kurang ajar, mau pergi dari rumah, tidak menghormati orangtua, dan lain-lain.

Berlinang air mata, aku salim kepada Bapakku dan berpamitan.

“Lho mau kemana le? Buk, Ibuk! Kenapa ini Raga mau kemana?” teriaknya kepada yang sedang masih menyumpahi aku dari dalam rumah.

“Pak, Raga pergi dulu Pak.”

Bapak menarik lenganku. Aku lebih kuat lagi berontak dari cengkeramannya. Aku tak minta mereka menjadi orangtuakua, tapi aku selalu diusir dan dihujani sumpah-serapah Ibu. Aku berlari bersama sepeda tuaku.

 

 

Akulah Raga, yang kini tak punya Ibu dan Bapak di Ibukota Jakarta. Hidup sendiri sebagai seorang transgender yang tak diterima keluarga. Keluargaku belum tahu kalau aku mempunyai kelainan mental seperti ini. Beberapa tahun lalu ketika aku pergi dari rumah karena diusir oleh Ibu karena nilai raporku yang jelek, aku bertekad menumpang kereta menjadi penumpang gelap menuju ibukota negara. Disini, aku yang tak lagi merindukan kedua orangtuaku, merasa damai dengan teman-teman yang bernasib serupa dengan aku. Aku, yang dari dulu suka bermain sepakbola, tak disangka memang tak menyukai wanita. Aku, entah kenapa, hanya tertarik pada sesama jenis saja.

Aku tahu penyakit ini adalah kutukan. Penyakit mental yang seharusnya bisa disembuhkan. Tapi aku terlanjur masuk dalam kubangan dosa, yang tak ingin aku terlepas darinya. Biarlah aku berenang dalam lautan penuh benci dan stigma. Aku, Raga, yang kini bernama Ratih.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *