Jangan Larang Anakmu Melakukan 9 Hal Ini

NONACERIA.COM – Sudah banyak psikolog yang mengatakan bahwa batasan yang diberikan kepada anak memang akan membuatnya merasa lebih aman dan nyaman. Namun sekelompok psikolog lainnya berkeyakinan bahwa hal tersebut malah akan membuat anak anda merasa selalu kurang akan dirinya sendiri dan akan mengganggu proses tumbuh kembangnya. Contoh hal-hal yang seharusnya para orangtua ijinkan anaknya untuk lakukan adalah menangis dan ribut dirumah. Mungkin para ibu akan berbalik mengernyitkan dahi dan berkata kepada saya,

“Bagaimana bisa saya melarang anak-anak untuk tidak menangis dan berbuat keributan didalam rumah? Mereka harus bisa tenang.”

Well, jawaban tersebut akan segera anda dapati di poin-poin berikut ini. Simak ya Bunda…

 

  1. Bertanya

“Darimana datangnya pelangi?” “Kenapa langit berwarna biru?” dan berbagai macam pertanyaan lain yang membuat para orangtua pusing dibuatnya. Tidak tahu bagaimana dan apa yang harus dijawabnya agar anak-anak puas. Jalan pintas yang sering dilakukan adalah mengoper pertanyaan tersebut kepada orang lain, “tanya saja pada gurumu!”. Nah Bunda dan Ayah, jawaban yang seharusnya kalian lontarkan adalah, “Bagaimana jika kita melihatnya bersama diluar, nak?” dan cobalah ajak dia berfikir. Ini tidak semerta-merta jawaban yang dilontarkan benar atau salah tetapi yang jauh lebih penting dari itu adalah kebersamaan kalian. Jangan sampai anak merasa ditolak dan tidak dihargai. Atau seringkali dianggap bodoh karena menanyakan berbagai macam hal yang tidak biasanya dipertanyakan. Waktu berkualitas yang kalian jalani bersama akan membantunya tumbuh menjadi anak yang mempunyai ikatan kekeluargaan yang dekat dengan anda. Sehingga, dimanapun mereka berada kelak ketika dewasa, mereka akan selalu merasa rindu dengan anda, tidak malah melupakannya begitu saja. Tentu itu bukan yang kalian inginkan jika sudah renta kelak? Bersama-sama anak hingga akhir hayat.

 

  1. Merasa cemburu atau marah

Seorang anak, sama seperti halnya orang dewasa, memiliki hak untuk merasa marah atau cemburu dan menunjukkannya kepada orang lain dala bentuk ekspresi wajah atau bahasa tubuh. Jangan larang mereka untuk mengekspresikan perasaannya. Itu normal kok Bunda. Ajak saja dia bicara, atau jika dia sedang ingin sendiri dulu, tunggulah waktu yang tepat untuk berbicara.

 

  1. Serakah

Tentu hal yang sudah sering kita lihat bersama jika anak-anak sedang bermain dalam grup, salah satu dari mereka suka saja merebut mainan yang sedang dipegang oleh teman lainnya. Sebagai gantinya, Ibu biasanya mulai  mengatakan, “Jangan serakah ya! Kasih itu mainannya ke teman kamu!”. Namun yang ada malah sang anak tidak menurut dan terus mencoba merebut mainan tersebut. Lebih baik anda katakan, “sayang, kenapa kamu tidak coba menawarkan temanmu mainan yang lain dulu supaya kamu bisa pakai mainan yang inginkan?”. Dengan memberikan solusi nyata yang langsung dapat dilakukan sang anak, mereka akan mencoba berfikir rasional untuk tidak semerta-merta merebutu mainan temannya. Tentu ada strategi yang bisa dilakukan untuk menghindari terjadinya pertengkaran.

 

  1. Mengatakan “tidak”

Seringnya Ibu  akan naik pitam jika anaknya menolak apa yang Ibu perintahkan. Ibu, seorang anak tidaklah hanya seonggok boneka tak bernyawa. Mereka juga memiliki hak untuk mengatakan tidak, tentunya harus diajari bagaimana menolak dengan cara-cara yang tidak menyakiti orang lain. Tetapi, jangan pernah melarang mereka untuk mengatakan tidak. Sebaliknya, jelaskan pada mereka secara baik-baik kenapa mereka terkadang harus melakukan sesuatu yang tidak mereka inginkan atau sukai seperti membersihkan rumah, belajar, mengerjakan pr, dan lain sebagainya.

 

  1. Menyimpan rahasia

Semakin beranjak dewasa umur seorang anak, semakin mereka memiliki ruang privasi sendir yang harus disadari dan dihargai oleh orangtua. Daripada mengancam yang tidak-tidak agar dia membuka semua rahasianya kepada Bunda, lebih baik Bunda katakan kalau Bunda menghargai privasi dia dan biarkan dia dengan rahasia yang ingin dijaganya. Selama tidak ada perubahan dalam sikap-sikap sang buah hati yang mencurigakan, sebaiknya Bunda tidak perlu khawatir ya. Jangan lupakan juga hubungan secara fisik seperti pelukan dan katakan sayang kepada mereka agar mereka merasa aman berada dalam lindungan kalian, bukan sebagai ancaman.

 

  1. Merasa takut

Hal yang umum diketahui apabila seorang anak takut dengan dokter, rumah sakit, dan jarum suntik. Tenang, Bunda. Itu hal yang diwajar oleh siapapun di dunia ini. bukan pula sebuah gangguan mental. Jangan marahi anak Bunda ya. Katakan saja dengan belaian lembut bahwa Bunda akan selalu berada disampingnya dan tidak ada yang perlu ditakutkan. Jika Bunda mempunyai seorang anak laki-laki, jangan pernah katakan,

 

“anak laki-laki itu tidak boleh penakut!”

 

Sebagai gantinya katakanlah hal-hal seperti,

“tidak apa-apa jika kamu merasakan ketakutan. Apa yang sebenarnya kamu takutkan?”

 

Ajak mereka berfikir tentang apa yang sebenarnya membuat nyali mereka menciut. Proses berfikir akan mengantarkan mereka menjadi pribadi yang tidak akan melakukan apapun jika tanpa alasan yang jelas.

 

  1. Membuat keributan

Para orangtua biasanya akan segera menyuruh anaknya untuk diam dan tidak ramai. Bunda dan Ayah, biarkan mereka bernyanyi riang gembira karena mereka tidak terlahir untuk hanya berdiam diri dan menuruti perintah. Mereka akan menjadi pemimpin bagi dirinya sendiri dan komunitasnya di masa depan.

 

  1. Menangis

Jika anda sering mengatakan, “jangan menangis! Anak laki-laki tidak boleh menangis!” yang mereka dengar hanyalah, “jangan tunjukkan emosimu!”. Sebaliknya, tanyakan pada mereka apakah gerangan yang membuatnya menangis. Pahami dan hargai perasaannya. Percakapan antara Bunda dan anak juga akan memperkuat hubungan kalian sendiri.

 

  1. Membuat kesalahan

Keributan terjadi setiap hari ketika waktu akan berangkat ke sekolah? Tidak bisa mengikat tali sepatu, lambat menguyah makanan, atau lainnya? Itu sudah biasa dialami oleh ibu manapun didunia ini. jangan memarahi dan memakinya dengan kata-kata negatif. Sebaliknya, katakan bahwa kita semua berbuat kesalahan dan itu wajar. Solusinya adalah ajari mereka bagaimana cara membuat simpul tali sepatu dengan benar, bukan dengan cepat, karena yang cepat belum tentu baik.

 

BONUS!

Yang terakhir adalah jangan ragu tawarkan mereka bantuan. Jika mereka merasa mampu untuk melakukannya, awasi dan bimbing saja agar semuanya tidak berantakan. Namun, bantuan akan selalu mereka hargai. Jadi tunggu apa lagi?

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *