Generasi Media Sosial yang Anti-Sosial

Penulis           : Medina
Hak cipta         : www.nonaceria.com 2018

 

Generasi Media Sosial yang Anti-Sosial. Kamu punya handphone? Punya sejumlah aplikasi chatting di hp-mu? Apa yang kamu lihat pertama dan terakhir kali ketika bangun dan sebelum tidur?

I know the answer meskipun kamu cuma jawab dalam hati kok. 😉 Dan itu juga yang menjadi jawaban sebagian beeesaaaaarr anak-anak, ABG, orangtua, kakek dan nenek. Ngga heran ya, anak kelas 1 SD aja sekarang hapenya udah smartphone.

 

Flashback masa kanak-kanak 2016

Banyak sih orangtua yang mengatakan kalau hape itu diberikan kepada anaknya agar mudah dihubungi jika bermain kerumah teman atau ketika pulang sekolah. Faktanya adalah orang-orang di pedalaman yang masih belum terjamah oleh teknologi, jarak antara sekolah dan rumahnya lebih jauh daripada orang kota dan orang-orang jaman dulu di kota maupun di desa, anaknya aman-aman saja bermain jauh dan pulang sekolah sendiri. I know I know kalau sekarang itu tingkat kejahatan semakin tinggi, banyak penculikan dan pelecehan seksual anak dibawah umur dan bla bla blaaa….. Ya itu mungkin bisa menjadi salah satu latar belakang kuat kenapa anak diberi hape di usia yang seharusnya mereka berkeringat main kesana-kemari, bukan duduk diam dalam ruang ber-ac memainkan jari-jemarinya dalam waktu yang lama. Namun, dengan diberikannya hape, akan lebih banyak lagi akibat buruk yang dihasilkan dari smartphone ini, salah satunya adalah mendidik anak untuk menjadi anti-sosial sedari kecil. See? Disinilah garis start kita ya.

 

Kini apa yang terjadi?

Orang-orang semakin sulit diajak bicara dari hati ke hati, dari mata ke mata. Lebih mudah diajak bicara dari Line ke Line, dari BBM ke BBM, dari Direct Message (instagram) ke Direct Message. Semakin timbul rasa malas hanya untuk sekedar menyapa dan menanyakan kabar di dunia nyata karena adanya kemudahan media sosial yang hanya dalam sekali ketik, pesan pun tersampaikan. Semakin sibuk lagi mencari uang untuk membeli gadget dengan harga termahal teknologi tercanggih. Karna semakin sibuk, berakhirlah anda untuk semakin sulit ditemui dan mudah dicapai di media sosial yang selalu aktif.

 

Okay, paragraf diatas terdengar klise ya sepertinya bagi sebagian (besar) orang. Namun faktanya jauh lebih dari itu kita sudah masuk kedalam perangkap simalakama dunia digital ini. Apakah kamu pernah masuk kerumah, menyalami ibu dan ayahmu, mereka menjawab namun mata tetap tertuju pada gadget masing-masing? Atau pernahkah kamu kehilangan banyak quality time bersama pasangan karena masing-masing sibuk dengan notifikasi smartphone nya? Dan suami dan istri bercerai karena mendapati suatu pesan ‘luar biasa’ di Facebook atau SMS nya? Susah mengajak teman lama berjumpa? Ah bukan hal yang sulit (dulu). Tinggal panggil di depan rumahnya seperti masa kecil tahun 1990an dulu, keluar deh dia dari dalam rumah. Sekarang? Terkotak-kotak oleh smartphone yang membuat kita menjadi orang yang semakin dungu.

 

Curhatku

Kini, aku semakin sulit mencari waktu bicara dengan keluargaku. Dirumah, tempat yang paling nyaman untuk berbicara dari hati ke hati kini menjadi tempat yang paling aku hindari. Karena dirumahku kini, hanya terdengar bunyi tang-ting-tong, bukan lagi suara canda dan tawa dari anggota keluarga. Aku mengharapkan adik dan kakakku usil padaku, hanya sekedar menggangguku belajar atau mencecarku dengan ceritanya di sekolah hari ini. Namun, aku harus sabar dengan mainan barunya yang lebih menarik hati daripada aku yang hanya seorang manusia biasa.

Kakak perempuanku, biasanya suka menanyaiku tentang hubunganku dengan teman-temanku ataukah menggodaku dengan pertanyaan yang selalu sama, “hayooo udah punya pacar ya sekarang?”. Tapi, kini dia lebih suka selfie berjuta-juta kali dan sibuk memilih foto mana yang akan dia posting di Instagram, sebelum posting dia akan sibuk meng-edit-nya dengan aplikasi canggih yang dapat merubah warna kulit cantik sawo matang itu menjadi putih seperti mayat, merubah hidung pesek khas orang Indonesia menjadi hidung mancung bak putri raja Inggris lalu menambah pipinya dengan pemerah, bibirnya dengan lipstick virtual dan makeup wajah lainnya.

 

BACA JUGA

CARA UNIK ATASI KEBOSANAN

 

Ibuku, aku mengharapkan engkau mau menyentuh lembut rambutku dan mengelusnya hingga aku tertidur. Ibu, aku berharap engkau memasakkan bekal makanku setiap hari untuk aku pamerkan kepada teman-temanku di sekolah bahwa masakan ibu lah yang paling enak. Dan ibu, tahukah engaku hal paling bodoh apa yang aku inginkan sekarang? Aku ingin ibu bawel dan memarahi aku setiap hari. Hanya karena aku malas mencuci kaki dan menggosok gigi sebelum tidur, ibu mengomeliku. Hanya karna aku sembarangan melempar seragam sekolah dan sepatuku sepulang sekolah, ibu mencubitku lembut. Hanya karena aku sulit sekali disuruh shalat, ibu memarahiku dan selalu dengan sabar mengajakku shalat setiap hari. Ibu, ibu ada disini, dirumah kita, tapi aku tidak merasakan kehadiran ibu. Yang aku tahu, ibu selalu aktif di Facebook dengan status-status ibu.

 

BACA JUGA

BOOST FOLLOWER AKTIF INSTAGRAM TANPA BOT

 

Ayah, dulu ayah suka sekali mengajakku bermain. Menggendongku di punggung, dan ayah jalan merayap seperti kuda. Mengelitiki pinggangku hingga aku geli dan tertawa-tawa meminta ayah untuk berhenti. Ayah suka sekali mengajakku membersihkan rumah di Minggu pagi. Aku rindu oleh teriakan ayah dari luar kamar, “ayo banguuunnn sudah siang! Anak gadis ga boleh bangun siang ya sayang. Yuk, bantuin ayah ngepel. Udah gitu kita sapu sampe bersih. Tuh, ibu udah siapin makan yang enak buat anak paling rajin yang bangun pagi hari ini.” Ah, tak terasa air mataku menitik ketika menuliskan ini semua. Ayah masih suka mengajakku membersihkan rumah di Hari Minggu, tapi ayah, kenapa engkau lebih suka dengan mobil dan gadget barumu?

 

BACA JUGA

APAKAH MENJADI SINGLE ITU SALAH?

 

Generasi Anti Sosial, apa yang harus kita lakukan?

Yuk ibu dan ayah, kakak dan adik, pasangan-pasangan diluar sana, taruh smartphone-mu yang berharga jutaan itu di meja, dan mulailah berbicara dengan manusia di sampingmu. Kamu manusia dan kamu butuh interaksi dengan manusia, bukan berbicara dengan robot smartphone kesayanganmu itu. Usahakan untuk selalu menyapa dan tersenyum dengan orang-orang di sekitarmu siapapun itu. Jangan mengkotak-kotakkan dan terkotak-kotakkan oleh robot yang bukan manusia. Be the real you.

 

Salam sosial dunia nyata. See ya!

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *