Kamu, yang Ku Cinta Sekaligus Ku Benci

Aku masih ingat, kala itu. Awan tak pernah semendung itu. Hujan sudah reda sedari tadi tetapi awan masih menutupi sinar matahari yang sudah menyembul-nyembul ingin menampakkan garangnya. Aku, masih duduk di bangku batu panjang yang minggu lalu baru saja di cat warna biru muda oleh pihak sekolah, menanti yang tak kunjung tiba. Kulihat layar telepon genggam, sudah lebih dari 30 menit aku menanti tapi kamu tak pula menampakkan diri. Setiap kendaraan yang lewat, aku melihatnya sejak sebelum dia lewat didepanku, lagi-lagi bukan kamu. Kemana kamu? Aku telepon nomormu tapi tampaknya kamu masih dijalan karena tidak ada siapapun yang menjawab teleponku. Hari yang sore ini semakin beranjak gelap mengiringi lagu sendu sekumpulan awan diatasku.

Ada sebuah sms masuk ke hpku,

Maaf aku tidak bisa malam ini. Dia tiba-tiba datang kekosku dan mengecek semua isi hp ku. Maaf sayang. JANGAN BALAS PESAN INI.

 

Terhempas hatiku. Lagi-lagi dia datang menghancurkan kebahagiaan kami berdua. Titik pertama menetes dari bola mataku membuat aliran ke pipi. Cepat-cepat aku hapus agar tidak berlanjut disini. Aku berlari menuju motorku, menyalakan mesinnya, dan melaju kencang menuju rumah kosku. Tak sampai 15 menit aku sudah sampai didepan kamar kosku. Aku buka pintu kamar dan merebahkan tubuhku ke kasur. Ku nyalakan lagu sendu pengiring sore ini.

Aku benci jatuh cinta pada pria yang masih menjadi miliknya, meskipun dia sudah tak mencintai kekasihnya. Kini, aku harus menjadi bayang-bayang dalam sebuah hubungan yang tak normal. Pria yang mencuri hatiku sudah lama hilang rasanya pada kekasihnya karena kekasihnya yang tak pernah percaya dan terlalu protektif pada sang pria. Lalu dia menemukanku yang juga sedang putus asa pada hubunganku. Kami saling menaruh hati. Tapi dia masih dipaksa untuk terus menjalin hubungan oleh kekasihnya karena rasa cintanya yang terlalu besar pada sang pria. Sedangkan aku? Ah, hubungan jarak jauh ini semakin sulit dan pahit untuk diteruskan. Tidak ada masa depan untuk aku dan dia. Tapi tak saat ini aku bisa memutuskan hubungan. Pelan-pelan aku semakin kehilangan rasaku dan semakin aku terdorong untuk mengatakan padanya bahwa aku tak lagi cinta. Begitu juga dengan pria sang pencuri hatiku ini.

Hingga malam tiba, aku tiba-tiba terbangun dari tidur yang tak direncanakan. Airmataku yang mongering terasa pelikat di pipi. Kulihat layar telepon genggamku. Tak ada pesan atau telepon masuk, pun dari pacarku.

 

Hari ini aku masuk kerja seperti biasa. Memeriksa jawaban ujian para siswa, membuat slide show materi baru, membalas pesan-pesan, mengobrol dengan teman, dan seterusnya. Hari ini tidak kelas dimana aku masuk kekelasnya. Semoga aku bertemu dengannya hari ini. Aku cek jadwal mata kuliah kelasnya hari ini. Pada jadwal tertulis jika kelasnya akan ada pada siang hari ini pukul 13.00 dengan mata kuliah komputer 1.

 

“Pak, hari ini ada kelas IK-2?,” tanyaku pada Pak Tihan yang mengajar kelas komputer 1 dikelasnya.

 

“Iya Bu, kenapa?” jawab Pak Tihan sambil melemparkan wajah penuh rasa penasaran.

 

“Oh nggapapa kok Pak, tanya aja hehe…”

Pak Tihan tampak tak puas dengan jawabanku tapi beliau memilih untuk menyimpan sendiri respon berikutnya. Tapi kini aku berkali-kali sudah bolak-balik ke toilet menanti dia yang tak kunjung datang bersama teman-temannya. Akhirnya aku memutuskan untuk kembali duduk di kursi kerjaku mengetik materi.

Sejam kemudian terdengar suara langkah-langkah kaki yang menaiki tangga. Tepat didepan ruangan kantorku, jadi suara grudukannya terdengar sangat jelas dan jelas ini bukan langkah kaki mahasiswi yang semuanya menggunakan hak tinggi disini. Aku tunggu hingga suara langkah kaki itu mereda. Rasa rinduku yang sudah tak terbendung ini meluap-luap seperti lahar yang masih keluar dari perut ibu gunungnya. Mereka terdengar sedang menunggu kelas sembari duduk di area tunggu depan ruanganku. Keringat dingin dan jantung berdegup menyerangku. Aku salah tingkah. Ingin sekali rasanya melihatnya keluar tapi aku malu, aku tak ingin, tapi aku rindu. Apakah dia ada? Kakiku melangkah keluar berpura-pura menuju toilet. Ketika aku menginjakkan kaki keluar dari ruangan kerjaku, semua mata menatapku.

“Halo Miss…!!!” seperti paduan suara, mereka menyapaku serentak.

“cantik banget hari ini Miss,”

“Miss kapan kelasnya Miss?”

“Miss salam dari Satria Miss.”

“Eh halo semuaa…! Wah rame banget kalian disini pada nunggu apa nih? Kelas kita besok kan?”

Untuk pernyataan terakhir dari temannya aku hanya membalas dengan senyuman. Tapi dari sebanyak ini yang masuk kuliah hari ini, tak kulihat wajahnya sekelibatpun. Aku masuk ke toilet. Didalam toilet, aku menarik nafas lalu membuangnya. Aku mengeluarkan cermin kecil dari dalam saku celanaku, mukaku merah sekali seperti kepiting rebus. Aku malu, aku sedih, aku kecewa, aku rindu. Bercampur-aduk menjadi satu. Dia tak ada. Aku malu mau menanyakannya pada temannya.

 

Pertemuan

Sore hari di sebuah tempat makan di pusat kota, dia memegang tanganku erat seakan tak ingin dilepaskannya. Aku saling beradu tatap dengannya.

“Maafin aku,” dia menangis.

“Aku bertengkar hebat dengannya kemarin. Dia tak mengijinkanku pergi kuliah. Aku sangat merindukanmu, sayang. Maafin aku,” dia menunduk menghapus airmatanya dengan tangannya yang sedang memegang tanganku sehingga aku terkena airmatanya pula.

“Iya nggapapa. Aku hanya rindu, kemarin, dan selalu,” aku mengelus dahinya dengan tanganku lainnya yang tak dia genggam.

 

BACA JUGA CERPEN YANG LAIN

Kisah Keluarga Jari

Raga

 

“maafin aku ya. Dia tidak mau berpisah denganku. Sudah lelah aku mengatakan padanya bahwa aku tak lagi mencintainya, tapi dia tak mau mengerti perasaanku. Aku dipaksanya berkata jika aku mencintainya dan akan terus bersamanya. Lalu bagaimana kita akan bersama?”

“Ssssttt…” telunjukku mendarat di bibirnya. Dia menatapku dengan lembutnya, seperti biasanya.

“Sayang…” aku masih menatapnya. Mencari kedamaian itu.

“Aku mencintaimu…. Tetaplah bersamanya.” Kulanjutkan kalimatku.

Dia menggeleng dengan keras, “tidak sayang. Takkan bisa aku mencintai orang yang tak pernah kucintai.” Makin erat kedua tanganku digenggamnya. Aku tak mau melepaskannya. Biarkan dia menjelajah ruang hatiku yang juga luka mendengar kabar ini.

“Lalu harus bagaimana?”

“Maukah kamu sabar menungguku sayang?”

Aku mengangguk sembari tersenyum, “selalu.”

 

 

10 bulan kemudian…

Dia sudah lulus dari kampus tempat dimana dia menimba ilmu dan aku mengajar sebuah mata kuliah. Aku dan dia kini tetap tak bisa bersatu. Kekasihnya memberiku ultimatum agar tak mendekatinya lagi. Aku memilih mundur teratur. Mengalah terkadang menjadi jalan terbaik bagi kedua belah pihak meskipun rasanya lebih pahit dari obat manapun. Susah dicerna dan dimengerti perjalanan cintaku dengannya. Begitu saja, dipaksa, ditelan angin, tanpa kabar. Aku bertemu dengannya untuk terakhir kalinya di upacara pelepasan mahasiswa. Selanjutnya, aku tak bisa menghubunginya lagi karena nomornya yang selalu berganti. Setiap berganti, dia selalu memasang nomornya di akun media sosialnya, seakan memberikan sinyal pada seseorang untuk menghubunginya. Tapi aku tlah memutuskan. Kami, tak akan bersatu dengan bisa racun yang masih menempel di perjalanan hati kami.

Cerita ini, kupersembahkan kepadamu. Seorang, yang pernah aku cintai sepenuh hati.

Bagikan :

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *